Kamis, 11 Juni 2009

CAN’T BE THE BEST ? IT’S OK!

Setiap orang dalam kehidupannya sehari-hari, selalu akan berusaha menjadi yang terbaik. Banyak usaha akan dilakukan untuk mencapai hal tersebut. Dari hal yang bisa dimasukan dalam kategori positif sampai dari hal yang bisa dimasukan dalam kategori negatif. Berusaha dengan keras, mengeluarkan semua sumber daya yang ada, bahkan ada yang ekstrim sampai mempertaruhkan diri sendiri, baik itu nyawa atau harganya. Atau juga ada memakai ‘jalan belakang’ atau bisa juga dengan cara KKN.

Dari berbagai contoh usaha yang dilakukan diatas, saya jadi bertanya berapa besar nilai yang dikandung oleh kata terbaik (The best) itu. Mungkin ada yang menjawab sangat besar atau mungkin ada yang menjawab tidak tahu atau mungkin bingung sama sekali. Oleh karena itu apapun yang saya kemukan dibawah ini, saya tidak berusaha untuk mengarahkan pada satu jawaban skala sikap. Untuk menjawab sangat besar jika setelah membaca tetap pada jawabannya, silakan tidak ada masalah. Tetapi untuk yang agak bingung, tidak ada salahnya jika anda nanti tambah bingung. Sebab seperti saya sebutkan diatas, apapun yang saya kemukan tidak mau saya dianggap mengarah pada satu jawaban.

Sebagai pembukaan, saya akan memberikan ilustrasi yang pertama sebagai berikut : misal pada suatu ujian atau ulangan, anda mendapat nilai 5 (setahu saya 5 masih ditulis dengan tinta merah di rapor), sedangkan semua teman anda yang lain dikelas mendapat nilai dengan variasi dari 0 sampai 4. Yang saya ingin tanyakan siapa yang terbaik (the best) nilainya di kelas anda ? Saya jamin anda dan saya sepakat bahwa jawabannya adalah anda, benar?

Lalu ilustrasi yang kedua adalah sebagai berikut : sekarang dibalik, misal pada suatu ujian atau ulangan, anda mendapat nilai 8 (setahu saya 6 sudah ditulis dengan tinta hitam/biru di rapor, apalagi angka 8), tetapi sedangkan semua teman anda yang lain dikelas mendapat nilai dengan variasi dari 9 sampai 10. Yang saya ingin tanyakan siapa yang terburuk/terjelek (the worst) nilainya di kelas anda ? Saya jamin lagi anda dan saya sepakat bahwa jawabannya adalah anda, benar?

Sekarang saya ingin bertanya kepada anda sekalian, jika kedua ilustrasi diatas tersebut terjadi pada anda, mana yang anda lebih suka, mendapat nilai 5 namun menjadi yang terbaik (the best) atau mendapat nilai 8 tapi menjadi yang terburuk ? Sekali lagi anda boleh bebas menjawab apa saja. Bagi yang menjawab lebih suka menjawab nilai 5 namun menjadi yang terbaik, saya hanya mengingatkan bahwa dari dulu sampai sekarang jika anda mendapat nilai 5, anda akan dianggap gagal atau tidak lulus pada mata pelajaran atau mata kuliah tersebut Dan bagi yang mendapat nilai 8 namun menjadi yang terjelek/terburuk (the worst), saya hanya mengatakan jangan berkecil hati sebab dengan angka tersebut, saya jamin dimana-mana nilai anda akan masuk dalam kategori lulus atau bagus.

Oleh karena itu, dari ilustrasi diatas saya mengambil kesimpulan bahwa : ‘the best is not always good, and the worst is not always bad’. Jadi jika anda mempunyai tujuan menjadi yang terbaik, saya hanya mengingatkan bahwa jangan sampai usaha anda tidak sebanding dengan hasilnya, apalagi sampai mengorbankan segalanya. Sebab apa ? karena ‘the best’ itu sendiri hanya ‘describe comparative thing’, sedangkan jika saya kaitan dengan kata ‘good ’, maka ‘good’ itu ‘describe directly to something’.

Jadi diakhir tulisan ini, saya hanya menitip pesan bahwa ‘the good one always has the change to the best one’. Lakukan dan raihlah satu yang bagus atau baik, sebab anda akan selalu punya kesempatan dalam menjadi yang terbaik. Ingat menjadi yang terbaik belum tentu mendapatkan sesuatu yang baik atau bagus.

Selasa, 05 Mei 2009

Sorry, man

Dalam kehidupan sehari-hari, anda dan saya pasti pernah berbuat salah, baik yang tidak begitu besar dimana tidak mengakibatkan sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada orang lain maupun yang sedikit lebih besar sehingga mengakibatkan sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada orang lain. Dan selanjutnya saya yakin bahwa hal pertama yang anda dan saya lakukan adalah meminta maaf pada orang tersebut.

            Namun kadang pula, pasti kita juga mengalami  kejadian dimana seseorang berbuat salah pada kita dengan kondisi yang sama seperti diatas. Dan tentu saja saya yakin bahwa kali ini pasti kita yang akan meminta maaf. Kalau dilihat dari kedua hal tersebut adalah proses atau kejadian maaf memaafkan tidak akan ada masalah dan tidak perlu diperdebatkan, apalagi kalau sampai ditulis-tulis seperti ini.

            Pernah sekali waktu saya bertemu dengan orang yang sedang dalam ‘voltase yang tinggi’. Dia sedang benar-benar marah sebab ada seseorang yang sedang berbuat salah padanya. Orang yang bersalah tersebut, dari mulutnya telah ‘mengalir dengan deras’ kata maaf. Namun orang yang sedang ‘tune in’ tetap saja tidak menhentikan kemarahannya. Memang orang yang bersalah ini sudah agak sering berbuat salah, sehingga sebagian dari diri saya mengatakan bahwa wajar juga sih jika dia kena marah. Tapi sebagian dari diri saya mengatakan bagaimana ini bisa selesai jika kata maaf yang telah dikeluarkan tidak ‘berfungsi’ sebagaimana mestinya apalagi jika dibandingkan dengan apa yang telah saya sebutkan diawal tulisan ini.

            Sebenarnya saya sendiri pun juga bingung (kalau anda juga bingung, sama dong), bagaimana bisa memaafkan atau dimaafkan oleh seseorang jika ada perbuatan salah yang terjadi.

            Pernah sekali saya atau mungkin anda juga, mendengar bahwa untuk bisa memaafkan kita perlu apa yang namanya sabar, berbesar hati dan lapang hati. Jujur saja mendengar namanya saja saya sudah cukup takut jika disuruh mendefinisikannya apalagi jika disuruh untuk melaksanakannya. Saya yakin anda akan sependapat dengan saya mengatakan : “Itu sih berat benar ”.

            Seorang terkenal yang bernama Mahatma Gandhi, pernah berkata :”Apabila anda benar anda tidak perlu marah. Apabila anda salah anda tidak boleh marah”. Sepintas saya berpikir bagaimana seorang Mahatma Gandhi menjalani hidupnya sehari-hari sampai akhir hayatnya. Separuh bagian ke belakang dari kalimat itu tentu saja mudah dilakukan, tapi bagaimana dengan separuhnya lagi yang ada didepan ? Anda tidak perlu marah jika anda benar ?

            Mahatma Gandhi merupakan tokoh atau public figure yang sangat berpengaruh terhadap sejarah kehidupan rakyat dan negara India. Walaupun Beliau sudah lama meninggal, namun banyak ajarannya yang dipakai oleh rakyat India.

            Lalu akhirnya saya sadar bahwa sabar, besar hati dan lapang hati dimulai dengan tidak perlu marah jika anda benar. Anda pasti akan mengatakan saya sedang bermimpi atau apa saja. Saya sendiri pun tidak keberatan sebab memang ini semua dimulai dari ‘my imagination’.

            Oleh karena itu saya hanya mengajak anda semua (itu juga jika anda mau), jika ada orang yang bersalah pada anda dan meminta maaf pada, cobalah untuk memaafkannya tanpa harus marah terlebih dahulu. Bahkan bila orang yang bersalah terhadap anda tersebut tidak mengucapkan kata maaf, baik disengaja maupun tidak sengaja, anda pun tidak perlu marah, cukup bayangkan saja orang bersalah terhadap anda itu sedang bilang : “Sorry, man”.

            Anda pun tidak perlu bertanya kepada saya bisa anda peroleh. Saya menyebutkan dua alasan. Pertama, Banyak orang bilang kalau anda suka marah akan lebih cepat tua (saya sendiri agak kurang percaya). Namun ada sebuah penelitian mengatakan jika anda tertawa anda menarik atau menggunakan 3 buah otot wajah atau muka. Sedangkan jika anda marah, maka akan menarik 75 buah otot wajah atau muka (nah, kalo ini saya agak sedikit percaya jika marah bisa lebih cepat tua). Kedua, dengan ‘hati’ Mahatma Gandhi selalu mendapat tempat di hati rakyat India sampai sekarang. Oleh karena itu bisa saja anda juga mendapat tempat di hati pada orang yang telah anda maafkan tersebut. Ingat tanpa marah-marah.

Rabu, 08 April 2009

THE BEAUTY

Siapakah wanita tercantik didunia ? anda……Lalu…..siapakah wanita tercantik di dunia ? anda…Mohon maaf saya sedang tidak memuji –muji anda semua, terutama kaum wanita. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang diajukan oleh sang ratu jahat dalam cerita snow white. Alkisah dalam cerita itu, sang ratu memiliki cermin ajaib yang selalu bisa menjawab pertanyaan sang ratu jahat. Itu jaman dulu. Nah kalo jaman sekarang?

 

Di jaman sekarang, kecantikan selalu menjadi tolak ukur penampilan dan ‘nilai’ seseorang, terutama kaum wanita. Siapa sih yang tidak bangga, kalo terlahir dengan memiliki kecantikan yang luar biasa. Bahkan yang namanya kontes kecantikan semakin banyak saja di selenggarakan. Untuk sebuah kecantikan, bahkan kaum wanita pun rela berkorban untuk mendapatkannya. Entah jadi langganan (baca : kecanduan) salon kecantikan atau rela berjalan kesana kesini untuk membuat dirinya semakin cantik. Yang paling ekstrim adalah ‘mereparasi’ bentuk tubuh. Ada yang dari kelebihan dikurangi, ada yang kekurangan ditambahi, bahkan ada yang masa bodoh pokoknya, kurang atau lebih, reparasi itu kudu (yang ini sih, mungkin dikira lagi modifikasi mobil kali)

 

Kecantikan fisik memang mau tidak mau dijadikan sebagai dasar dalam pergaulan di jaman sekarang. Jarang yang  secara fisik mempunyai kecantikan, merasa minder atau malu dalam bergaul. Kenapa? Karena yang kurang cantik saja percaya diri kok. Kenapa yang cantik tidak?

 

Kecantikan fisik juga dijadikan dasar pertama (bukan utama) dalam seseorang terutama kaum laki-laki dalam memilih pasangan hidupnya.Walau banyak tidak mengakui, namun itu bukanlah rahasia lagi. Selain itu banyak pula, banyak keputusan-keputusan dalam hidup seseorang yang berdasar oleh sebuah kecantikan.

 

Seorang teman penulis terkenal, bilang bahwa kecantikan itu ada dua macam. Yang pertama adalah seperti gunung. Maksudnya adalah dari jauh kelihatan indah dan menarik dan dari dekat terlihat kurang menariknya atau jeleknya. Lalu tipe yang kedua adalah tipe angkot (angkutan kota). Nah kalo yang ini maksudnya adalah jauh dekat sama saja (ha..ha…). Tapi ada benarnya juga pendapat ini. Seharusnya kecantikan yang dimiliki adalah yang dari jauh maupun dekat adalah sama. Dan kecantikan yang dari jauh dan dekat sama saja harusnya adalah kecantikan yang datang dari dalam. Bahasa kerennya sih Inner Beauty.

 

Jujur saja, apa yang namanya inner beauty pun susah untuk dibahas secara rinci. Banyak yang bilang bahwa inner beauty itu bukan kecantikan fisik, tapi kecantikan dalam bersikap, bertutur kata dan banyak lagi. Yang penting tidak ada hubungan sama sekali dengan fisik. Ada yang bilang bahwa yang biasa suka bicara inner beauty itu adalah orang yang secara fisik kurang kecantikannya. Maka itu, tidak perlu lah membahas polemik ini. Lalu apa sih kecantikan itu ?

 

Kecantikan itu menurut saya sih adalah rahmat Tuhan yang diberikan kepada kita dengan cara dititipkan pada orang lain untuk kita nikmati. Dua alasan yang mendasari pendapat saya ini adalah entah inner beauty atau physical beauty harusnya bisa kita nikmati toh. Wanita cantik nan baik hati, saya rasa mana ada yang tidak mau berteman dengannya. Yang kedua. Pernah ada yang memperhatikan kalau wanita cantik itu sering melihat cermin? Mau tahu alasannya? Mudah saja. Si cantik ini juga ingin ikut menikmati rahmat Tuhan.

 

Terakhir, kecantikan itu harusnya ada pada setiap kita semua. Hanya kadang kita banyak yang tidak menyadarinya atau menyalahgunakannya. Jadi, always be beautiful. Beautiful in the way you are.

Sabtu, 14 Maret 2009

BLIND IS LOVE (A True Story)

This Is Short Story About "Blind Is Love"

My name is Linda.
Since we first date until got married, 
people said that : 'my husband is good looking'
I just can know it from others because.......
I'm Blind
If people said, love is blind...
For my lovely husband said, blind is love.
My husband's name is Budi

Maybe, Blind means : Budi Linda

Dedicate to Budi and Linda (Feb, 2009)

DEPENDS ON WHAT YOU GIVE

Alkisah, ada seorang kakek yang kaya raya. Sang kakek mempunyai 3 orang cucu. Pada saat sebelum meninggal, sang kakek sudah membuat surat wasiat untuk pembagian harta kepada ketiga cucunya. Sesaat setelah sang kakek meninggal, maka dipanggilah ketiga cucu kakek tersebut. Si cucu pertama dengan yakinnya bahwa ia akan mendapat bagian yang terbesar. Sedangkan si cucu terkecil, hanya berharap mudah-mudahan harta peninggalan sang kakek bisa dikelola dengan baik oleh kedua kakaknya. Singkat cerita, akhirnya bukan cucu pertama atau kedua yang mendapatkan warisan, tapi adalah cucu terkecil yang mendapatkan seluruh warisan. Lho kok bisa? ternyata di surat wasiat yang dibuat, sang kakek memerintahkan agar warisannya dibagikan kepada cucu yang mengingat tanggal ulang tahunnya. Sudah pasti, si cucu ketiga lah yang mengingat tanggal ulang tahun si kakek.

Memang cerita diatas mungkin hanya sebuah cerita. Tapi yakinlah, bahwa banyak kok yang mungkin suka lupa kapan ulang tahun kakek kita. Tapi kalau kakek kita mewariskan warisan 10 juta dollar, saya yakin ngak ada yang bakal lupa kalau angkanya 10 juta dollar.

Dari cerita diatas, dalam hidup justru kita selalu diingat oleh orang lain bukan dari apa yang kita peroleh, justru dari apa yang kita berikan. Banyak orang yang justru berusaha untuk mendapatkan sebanyak mungkin supaya diingat atau selalu dikenal oleh orang lain, dengan melupakan untuk memberi. Adalah wajar jika seseorang ingin berusaha agar dirinya selalu diingat, dikenal oleh orang lain. Adalah suatu kebahagian, jika bisa selalu diingat, dikenal dan bahkan dikenang oleh orang lain. Si cucu ketiga, mungkin memang sudah diingat oleh sang kakek, karena dia sudah terlebih dahulu memberikan perhatian, yang mungkin kecil, yaitu tanggal ulang tahun sang kakek.

Sebagai penutup tulisan singkat ini, saya hanya mengutip salah satu kata dari Mahatma Gandhi, yang selalu diingat dalam hati oleh rakyat India, yang dimana beliau mengatakan : "happiness depends on what you give, not what you can get". Kebahagiaan yang diperoleh oleh Mahatma Gandhi, dimana selalu dikenang oleh rakyat India, ternyata didapat dari apa yang diberikan. Mahatma Gandhi, tentu saja bukan sang kakek yang bisa memberikan 10 juta dollar, entah apa yang dia berikan. Konon katanya sesuatu yang disebut Like Heart of Gandhi. 

  

Rabu, 11 Maret 2009

I LOVE MONDAY (5 hal yang membuat kerja itu menyenangkan)

Sudah menjadi takdir bahwa setiap orang itu harus bekerja. Entah dari melakukan hal yang halal maupun yang tidak. Bukan karena kewajiban atau suatu paksaan, tapi sebagai salah satu faktor yang utama, bahwa setiap orang pasti punya kebutuhan, dan kebutuhan inilah yang pasti akan mendorong untuk orang bekerja. Dari kebutuhan yang sifatnya dasar hingga yang tidak dibutuhkan saja, orang kadang tetap memenuhinya.
Namun, dari hal-hal yang ada di dunia ini, banyak muncul pendapat-pendapat yang kadang membuat orang untuk bertanya sebenarnya bekerja itu harus, wajib, atau sekedar aktivitas biasa atau malah mungkin tidak perlu kita bekerja. Sebagai contoh, saya pernah bertemu dengan teman kuliah yang lebih senior dari saya. Ceritanya dia datang ke kampus untuk mengambil ijazahnya yang sudah setahun tidak sempat diambil. Lalu dia bertanya kepada saya, lagi skripsi? Saya jawab, ya. Lalu dia bilang bersyukurlah masih skripsi. Lalu saya tanya, kenapa? Dia bilang mumpung masih belum kerja, saya anjurkan kamu puas-puasin deh sama yang namanya “nganggur”. Lalu dalam hati saya bilang, “Aneh orang ini”. Ketika semua orang membutuhkan pekerjaan dia malah bilang enak nganggur”. Alasan dia berkata seperti adalah kalau sudah bekerja, anda seperti masuk camp konsentrasi, yang ngak bakal ada senangnya. Paling cuma 1 hari (pasti pas pay-day)
Lalu ada lagi seorang teman (yang ini masih mending) yang paling benci kalo dalam bekerja hari Senin. Katanya menurut dia pekerjaan selalu menumpuk di hari senin dan masalah selalu timbul di hari senin. Dia bilang cuma sambil dengar lagu slow aja, serasa dengar lagu-nya sepultura (Metalica juga juga kali ya). Cuma yang mau saya tanyakan ke teman saya ini, kalau pas pay-day nya hari senin, masih sepultura ngak ya?
Dari kedua cerita singkat tersebut, sebenarnya saya juga hampir mirip-mirip dengan kedua teman saya ini. Tapi dari pengalaman saya baik yang sifatnya praktikal maupun edukasional, serta kadang spiritual, sebenarnya bekerja itu adalah yang biasa saja, bahkan menyenangkan. Jujur aja saya I LOVE MONDAY. Malah saya kadang lebih jenuh di hari rabu atau kamis. Cuma satu alasan, biasanya hari rabu dan kamis tidak banyak pekerjaan, sehingga rasanya rugi kalo masuk kantor. Lebih baik jalan-jalan aja. Tapi ya kita tetap harus bekerja, karena itu yang harus kita lakukan. Dan sekarang saya tidak masalah mau hari apapun.
Oleh karena itu saya ingin membagikan beberapa hal yang membuat saya bisa dan mau mencintai pekerjaan, mau hari apapun termasuk Senin atau Rabu. Tapi sebelumnya, jelas dibutuhkan kemauan kita untuk mengubah cara pandang atau pola pikir kita dulu. Sebab jika seseorang aja sudah bisa menjalaninya, masa kita tidak bisa. Atau paling tidak di coba lah. Jangan sampai terjebak oleh situasi yang anda ciptakan sendiri (being trap by your own situation). Kenapa saya bilang by your own situation? Karena mungkin bisa kita ubah tapi kita tidak mau mengubahnya, bahkan berharap pada orang lain, dan selalu dengan alasan yang sama setiap minggu.

Ada sebuah cerita yang disampaikan oleh Frank Koch dalam Proceedings, majalah Naval Institute :
Dua kapal tempur yang diserahkan kepada skuadron pelatih telah beberapa hari bermanuver di laut di bawah cuaca yang buruk. Saya ditugaskan di kapal tempur yang satu dan sedang berjaga suatu malam. Jarak pandang sangat buruk akibat kabut, maka sang kapten pun tetap terjaga untuk mengawasi segala kegiatan. Tidak lama setelah hari gelap, seorang petugas jaga melaporkan, 
“Ada lampu yang menyorot ke sebelah kanan”.
“Apakah lampu itu diam atau bergerak mundur?” sang kapten bertanya. Sang petugas menjawab, “Diam, kapten”, yang berarti kami terancam bahaya tabrakan dengan kapal tersebut.
Lalu sang kapten berseru kepada sang petugas sinyal: “Berikan sinyal kepada kapal itu: Kita bisa tabrakan, tolong mengubah arah 20 derajat”. Balasannya: “Anda saja yang mengubah arah 20 derajat”. Sang kapten berkata. “ Disini kapten, tolong ubah arah anda 20 derajat”.
“Saya hanya pelaut kelas dua”, demikian balasannya, “Sebaiknya andalah yang harus mengubah arah 20 derajat”.
Ketika itu sang kapten marah. Bentaknya, “Ini kapal tempur tahu! Cepat ubah arah 20 derajat”;
Balasannya, “Di sini mercu suar”.
Maka kamilah yang mengubah arah


Menurut Art Berg, dalam bukunya the impossible thing just take a little longer, bahwa masalahnya bukanlah apa yang tidak bisa anda perbuat, melainkan apa yang tidak mau anda perbuat. Sebagai informasi, Art berg seseorang yang mengalami cacat tubuh quadriplegic (fungsi keempat anggota utama tubuh menjadi terbatas).

Saya mendapatkan ada lima hal yang membuat saya bisa menikmati pekerjaan setiap hari (walaupun tidak bisa setiap hari selama 360 hari). Kelima hal tersebut adalah:

1. Kita bekerja itu bukan mencari rejeki tapi menjemput rejeki
AA Gym, dalam tulisannya yang berjudul Prinsip-Prinsip Bisnis Dalam Islam, mengatakan, kalau kita berbisnis (bekerja) itu hanya mencari makan apa beda dengan kambing, kalau bekerja itu hanya mencari uang apa beda dengan garong. Kedua sama-sama mencari makan dan uang. Apalagi mencarinya memakai peribahasa membanting tulang demi sesuap nasi. Kalo ada orang yang seperti ini, pasti diejek, "kasihan deh loe. Sudah tulang yang dibanting, cuma sesuap yang didapat. Oleh karena itu bekerja itu bukan mencari rejeki, tapi menjemput rejeki. Kenapa ? Sebab kalo mencari belum tentu mendapatkan. Bedakan antara menjemput dan mencari. Sebagai contoh : kalo saya bilang mau jemput istri di salon, sudah pasti saya sudah punya istri dan sedang di salon. (kecuali menjemput yang lain). Tapi kalo saya bilang mau cari istri di salon, sudah pasti saya belum punya istri dan tentu saja belum tentu dapat, kasihan kan. Oleh karena itu, masa cuma Tuhan suruh jemput rejeki yang Dia sudah persiapkan aja kita tidak mau? Dan segala sesuatunya itu harus dimulai pada hari senin. Jadi itulah hal yang membuat kenapa saya I Love Monday juga, Selain saya pikir juga tidak ada gunanya. Sebab ada minimal 52 monday setahun, jadi anda semua akan benci-benci-an paling enggak minimal 52 kali setahun. Alangkah kasihannya

2. Dalam bekerja, uang bukanlah tujuan utama
Masih dari AA Gym, beliau menyampaikan, bahwa dalam bisnis atau bekerja uang adalah nomor sekian. Namun yang paling penting adalah :
  1. Dalam bekerja apa yang kita lakukan bisa menjadi amal. Yaitu dengan niat dan cara yang benar.
  2. Dalam bekerja kita harus bisa menjadi lebh baik
  3. Dalam bekerja kita bisa menambah ilmu, pengalaman dan wawasan. Istilah nya jika uang yang kita dapatkan harus bisa meng-up-grade diri kita.
  4. Dalam bekerja kita juga bisa menambah kawan atau saudara. Menambah silahturahmi. Buat apa bertambah rejeki tapi bertambah pula musuh.
  5. Dalam bekerja kita juga bisa memberikan keuntungan bagi orang lain.
Selanjutnya secara tegas, AA Gym menyampaikan punyalah hati yang jujur dalam bekerja. Logikanya, Tuhan yang menyuruh jujur, Tuhan juga yang memberi rejeki, untuk apa harus tidak jujur? 

3. Dalam bekerja harus punya hati yang melayani
Saya mendapatkan inspirasi ini dalam sebuah majalah yang diterbitkan oleh Bank BCA. Didalam majalah tersebut ada seorang yang menyampaikan pendapatnya seperti ini: “Dalam bekerja harus mempunyai hati yang melayani, kalau tidak, berharaplah warisan". Melibatkan hati itu memang diperlukan dalam kita bekerja dan saya rasa bukan sekedar bekerja saja. Hati merupakan sumber kehidupan kita Jika anda tidak punya hati, jelas anda tidak punya perasaan. Kalau anda tidak punya perasaan, apa anda pantas disebut manusia. Apa beda anda dengan kambing yang cari makan diatas atau mungkin anda seorang robot. Dengan hati, kita bisa bekerja dengan baik dan mungkin anda pasti juga berusaha untuk tidak merugikan orang lain. Tapi bagaimana kalau yang rugi itu diri kita sendiri?
Dalam bukunya, Marketing with Love, Ippho Santosa membahas tentang Balanced Work Triangle, dan dengan sedikit meringkas (Maaf Mas Ippho) saya dapat prinsip kerja, yaitu prinsip 3 AS, yang pertama kerAS(work hard), lalu cerdAS (work smart), dan yang ketiga IkhlAS (work sincere). Selanjutnya beliau menyampaikan dalam bahasa kerennya, keras itu AQ, kalo cerdas itu EQ dan IQ, sedangkan Ikhlas itu SQ. Nah, jadi jika yang rugi itu kita sendiri, kita memang butuh yang namanya keikhlasan. Dan sekali lagi keikhlasan itu butuh hati.

4. Kita harus mencintai pekerjaan kita
Pada poin ketiga itu artinya, dalam bekerja kita haru berusaha mencintai orang-orang yang ada di sekitar kita, walaupun kadang sulit. Sedangkan pada poin ini, kita harus bisa mencintai pekerjaan kita. Seorang teman mengirimkan e-mail kepada saya sebuah artikel, yang berjudul “Love Your Job But Never Fall In Love With Your Company”. Artikel ini berisi cerita dari seorang CEO sebuah perusahaan IT dari India berbicara dalam sebuah sesi dengan para karyawannya tentang filosofi ini. CEO ini termasuk dalam 50 besar orang yang paling berpengaruh dalam dunia bisnis di Asia (versi majalah Asiaweek). Dalam pembukaannnya, beliau mengambil pendapat dari Narayana Murthy, yaitu “Cintailah pekerjaanmu, tapi jangan pernah jatuh cinta kepada perusahaanmu. Karena kamu tidak pernah tahu kapan perusahaanmu berhenti mencintaimu”. Intinya beliau, menyampaikan bahwa dengan mencintai pekerjaan, kita bisa sebisa mungkin bekerja sebaik mungkin. Sebisa mungkin menghindari kesalahan yang mungkin saja juga juga dalam membetulkan kesalahan-kesalahan yang ada selain menghabiskan waktu, juga tenaga dari orang lain yang bekerja dengan kita baik secara langsung maupun tidak langsung. Dan di akhir, dia memberikan dua langkah yang cukup bagus. Pertama, kita harus bisa memberikan contoh, apalagi kita sebagai seorang atasan. Lalu yang kedua adalah mau menjalani hidup yang seimbang. Untuk hal ini dia memberikan langkah-langkah yang bisa membantu :
  1. Bangun pagi, sarapan dengan menu yang baik, lalu berangkat bekerja
  2. Bekerjalah dengan keras dan pintar selama 8 atau 9 jam sehari.
  3. Pulanglah ke rumah
  4. Baca buku atau komik, menonton film yang lucu, kumpul-kumpul dengan rekan, keluarga, bermain dengan anak-anak, dll
  5. Makan yang sehat dan tidur yang cukup
(Langkah-langkah ini disebut sebagai recreating. Mengerjakan langkah 1, 3, 4, dan 5 akan memungkinkan langkah 2 dilakukan secara efektif dan seimbang)

Bekerja secara normal dan hidup seimbang adalah konsep sederhana, kalau sulit itu hanya butuh kemauan untuk berubah dan melakukannya..

5. Mau memperhatikan hal-hal yang kecil
Kadang kita suka meanggap hal yang kecil itu, ya kecil, tidak perlu diperhatikan atau maaf, karena kecil jadi ngak kelihatan deh. Misal proses pemilihan baju yang akan dipakai bekerja pada hari itu. Ada baiknya dilakukan malam sebelumnya. Sebab jika dilakukan pada pagi hari mungkin dengan keterbatasan waktu, anda belum sempat puas memilih sudah harus berangkat kerja dan memakai baju yang mungkin anda belum cocok. Sudah pasti kesal dan dibawa deh kesal itu ke tempat kerja. Ada yang mengusulkan, jika mungkin dengarlah lagu-lagu favotir anda di pagi hari, yang bisa menyenangkan hati anda (kan mendapatkan yang anda favoritkan). Dengan memperhatikan hal-hal yang kecil ini, diharapkan kita bisa tidak membayangkan setumpuk pekerjaan yang mungkin saja sudah menunggu anda. Sebab membayangkan saja sudah membuat anda kesal. Apalagi begitu tiba di tempat kerja.

Dan pada akhirnya, saya mau mengajak anda untuk tetap sehat. Penting sekali. Buka sekedar makan yang sehat tapi juga aktivitas-aktivitas yang dilakukan diluar pekerjaan. Sehat pun menurut saya bukan sekedar sehat. Saya mendapatkan definisi yang sehat yang cocok buat saya adalah dari Deepak Chopra M.D, Beliau bilang "Healty is not just the absence of disease, but inner joyfulness that should be ours all the time". Jadi sudah cocok kan, bekerja dengan hati, mempunyai tubuh yang sehat dengan kesukaan dan keceriaan yang selalu ada dalam hati setiap saat.

Minggu, 01 Maret 2009

SETANGKAI BUNGA YANG INDAH, TAPI……...

Suatu hari ku berjalan, di jalan yang tidak pernah kulalui

dan kuterus berjalan, berjalan

Lalu ditengah perjalanan kumelihat sebuah bunga yang indah

sangat indah, indah dan indah

Dalam hati bertanya, dan terus bertanya

siapa pemiliknya? Adakah?

Ingin hati, bukan sekedar memandang, tapi memiliki

namun sekali lagi, hati bertanya, adakah?

Kuulurkan tanganku untuk memetik bunga itu,

namun kutarik lagi tanganku.

Terus berulang-ulang kulakukan hal itu,

namun sekali lagi, dan lagi hati bertanya, adakah?

Dan aku hanya diam memandang………


Lalu datang orang pertama dan berkata :

“Petiklah bunga indah itu. Sepertinya tidak ada pemiliknya”

“Lakukanlah. Bunga yang indah jarang ditemukan”

Kuulurkan tanganku lagi, memetik bunga tersebut. Namun…..

Datang orang kedua dan berkata :

“Aku pernah melihat bunga itu. Awas ada durinya”

“Bunga indah di tepi jalan yang tidak tahu pemiliknya, mungkin ada durinya”

Kutarik tanganku kembali……dan kutermenung……diam

Datang orang ketiga dan berkata :

“Mengapa kau termenung? Apakah karena bunga indah itu?”

Kujawab : “Ya. Apakah kau kau tahu bunga itu? Apakah ada durinya?”

Dan dia berkata : “Hampir setiap bunga yang indah, pasti berduri”

“Namun aku pernah mendengar, bunga itu pernah terluka oleh seseorang”

“Seseorang yang pernah melewati dan memetiknya”

“Lalu karena suatu hal, dia tinggalkan bunga itu ditepi jalan lagi”

“Saya dengar, bunga itu mempunyai duri yang tajam dan……racun”

Aku hanya diam dan hatiku…….kenapa aku ingin memetiknya?

Lalu datang orang keempat dan berkata :

“Jika ingin memetiknya, petiklah”.

“Kalau memang ada durinya, biarlah tanganmu yang merasakan”

“Kalau memang ada racunnya, biarlah kau yang menentukan, mau bertahan atau tidak”.

“Lagipula duri dan racunnya, kalau memang ada. Jika tidak…..?”

Kutermenung……kalau memang ada, jika tidak?


Dan semua orang lainnya juga melihat diriku yang gundah.

Jika kujawab tidak, mereka melihat mata-ku. Jendela hati.

Namun mereka memberikan perkataan yang sama.


Lalu kuteringat…..

Jika kau ingin merasakan sesuatu, tidak bisa hanya dengan memandangnya,

harus kau makan jika itu makanan, harus kau minum jika itu minuman.

Sampai pada saat itu baru bisa kau tahu manis dan pahitnya.


Dan akhirnya kuputuskan untuk mencoba memetiknya, dan……..

Kurasakan durinya, tapi tidak seperti yang orang – orang gambarkan,

dan aku bisa bertahan. Sakit tapi kuingat :

“Hampir setiap bunga yang indah, pasti berduri”

Sekilas bunga ini pun tersenyum padaku.

Jadi tidak terasa sakit durinya.

Kurasakan semerbak harum wanginya, dan dia terus tersenyum,

Dan aku hanya bisa berkata :

“Belum pernah ada setangkai bunga indah yang pernah kulihat dan ingin kumiliki”

“Apakah kau bisa mendengar suara hatiku?”……………………………………

…………………………………….

Entah sudah mendengar atau belum, dia hanya tersenyum dan terus tersenyum.

Sampai suatu hari aku merasakan, sesuatu yang, sungguh, aku pun tidak tahu.

“Inikah racun itu? Aku seperti tidak dapat melihatnya, sungguh, tidak melihatnya”.

“Apakah aku sudah buta…..?

“Atau sejak awal aku sudah terkena racunnya? Sehingga buta mataku dan hatiku”

“Tidak, tidak. Mataku selama ini melihat terus senyumnya. Tapi hatiku……?”

“………atau senyumnya itu…….?


Sekarang dengan waktu yang tersisa, aku akan mencari jawabannya.

Ku tak bisa terus diam disini, karena masih ada jalan di depan yang harus kulewati.

Hatiku kadang berbicara :

“Ini bukan racun, tapi betul, sesuatu yang, sungguh, aku pun tidak tahu”

Dan aku pun bertanya :

“Tetap diam berdiri disini atau terus berjalan dengan atau tanpa bunga indah ini?”


Untuk sementara aku berpikir,...........

Memang setangkai bunga yang indah, tapi........................

(Mkr, 2005)